Rabu Kliwon malam, 08 April 2026, suasana di Aula Pesantren Ahlus-Shafa Wal-Wafa terasa berbeda dari biasanya. Usai Majelis Reboan Agung, ribuan jamaah tetap bertahan dalam khidmah, mengikuti prosesi pelantikan Pengurus Yayasan Pesantren Ahlus-Shafa Wal-Wafa Masa Khidmah 2026–2031.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri langsung oleh KH. Mohammad Nizam As-Shofa selaku Pembina Yayasan, Keluarga Ndalem, serta para murid dan jamaah dari berbagai daerah. Larutnya malam tidak menyurutkan antusiasme hadirin. Justru, suasana terasa semakin hangat dan penuh kekhusyukan.
Rangkaian acara diawali dengan Pembacaan Tartil Shafa’i, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air. Momentum inti kemudian berlangsung dalam prosesi pelantikan yang dipimpin langsung oleh Buya As-Shofa, termasuk penetapan KH. Miftahul Ulum, S. Si., M. Pd. sebagai Ketua Yayasan Ahlus-Shafa Wal-Wafa untuk masa khidmah 2026–2031, sebelum ditutup dengan penyampaian amanah dan doa.
Dalam amanahnya, Buya As-Shofa menegaskan empat prinsip yang diharapkan menjadi ruh dalam menjalankan kepengurusan ke depan, yaitu: Loyalis, Dinamis, Realistis, dan Adaptif. Keempat prinsip ini bukan sekadar pedoman organisatoris, melainkan fondasi nilai yang mengarahkan setiap langkah pengurus dalam mengemban amanah khidmah.
Loyalitas menjadi pijakan awal—setia pada nilai, pada perjuangan, dan pada garis bimbingan guru. Dinamis menuntut gerak yang hidup, tidak stagnan dalam menghadapi perubahan zaman. Realistis mengajarkan kesadaran akan batas dan kemampuan, agar langkah tetap terukur. Sementara adaptif menjadi kunci dalam merespons tantangan dengan kelenturan tanpa kehilangan arah.
Usai prosesi pelantikan, seluruh jamaah berkesempatan melakukan halal bi halal kepada Buya As-Shofa, Keluarga Ndalem, serta para pengurus yang baru dilantik. Momen ini menjadi penutup yang hangat—sekaligus awal dari perjalanan panjang dalam mengemban amanah.
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan peneguhan kembali niat dan arah khidmah. Di tengah derasnya perubahan zaman, amanah ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan nilai, tradisi, dan gerak nyata dalam kehidupan umat.
Dalam suasana yang hening namun penuh makna, seakan terpatri satu kesadaran bersama: bahwa setiap amanah adalah panggilan untuk berkhidmah—bukan semata dengan kemampuan, tetapi dengan kesungguhan, adab, dan harapan akan madad dari Allāh ﷻ melalui bimbingan guru.