Membaca untuk Menguatkan Negeri: Literasi Santri Menuju Indonesia Emas
Pendidikan Islam 22 Oct 2026 97 6 min

Membaca untuk Menguatkan Negeri: Literasi Santri Menuju Indonesia Emas

Hari Santri Nasional 2026 bertepatan dengan satu abad Gontor. Artikel ini merenungkan literasi santri sebagai kemampuan untuk terus belajar, dari adab dan ilmu hingga karya dan pengabdian, dengan merujuk pada salah satu pembahasan dalam buku The Gontor Model.

A
Admin
Author
Share:

As-Shafa Publisher · 22 Oktober 2026

Hari Santri Nasional 2026 dan satu abad Gontor sama-sama mengajarkan satu hal: literasi sejati adalah kemampuan untuk terus belajar, mengolah pengetahuan menjadi karya, dan mengabdikannya bagi bangsa.

Pada 1926, di Gontor, Ponorogo, sebuah pondok memulai babak barunya dengan tekad mendidik manusia, bukan sekadar mengisi kepala dengan pengetahuan. Hampir dua dekade kemudian, pada 22 Oktober 1945, para kiai dan santri menjawab seruan Resolusi Jihad untuk membela bangsa yang baru lahir. Tanggal itulah yang kelak ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional.

Dua peristiwa itu seakan dua sisi dari satu keping yang sama: ilmu yang membentuk manusia, dan pengabdian yang lahir dari manusia yang terbentuk itu. Tahun ini keduanya bertemu. Gontor genap seratus tahun, dan Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, yaitu cita-cita Indonesia pada usia satu abad kemerdekaannya di tahun 2045.

Maka pertanyaannya terasa dekat: bekal apa yang perlu disiapkan agar santri sanggup memikul tugas itu? Dan bagaimana literasi menjadi salah satu jalannya?

Literasi Santri: Lebih dari Sekadar Membaca

Di pesantren, pengetahuan tidak sekadar dipelajari, tetapi dihidupkan dalam keseharian: lewat kitab yang dikaji, penjelasan guru, diskusi, hafalan, catatan, dan keteladanan. Semua itu adalah literasi dalam pengertian yang luas, yaitu kemampuan memahami isi bacaan, menghubungkan pengetahuan dengan kenyataan, dan terus mengembangkannya.

Kemampuan itu semakin penting di tengah arus informasi hari ini. Akses yang mudah tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Seseorang dapat membaca banyak tulisan tanpa memahami persoalannya, atau mengetahui banyak informasi tanpa mampu membedakan fakta, pendapat, dan kesimpulan yang belum teruji. Karena itu, literasi perlu melampaui membaca: memeriksa sumber, memahami konteks, menilai argumen, dan menarik kesimpulan secara bertanggung jawab.

Tradisi pesantren sejak lama menaruh satu kata sebelum ilmu: adab. Wahyu pertama yang turun kepada Muhammad ﷺ adalah perintah Iqra’, “bacalah”, tetapi perintah itu bergandengan dengan bismi rabbika, “dengan nama Tuhanmu”. Membaca dimulai dengan kesadaran bahwa ilmu adalah karunia Allāh ﷻ yang perlu disambut dengan kerendahan hati. Maka santri tidak hanya diajari membaca kitab, tetapi juga memuliakan guru, menjaga niat, dan membersihkan hati agar ilmu tidak hanya menumpuk di kepala, melainkan menerangi laku.

Para ulama sering mengibaratkan ilmu sebagai cahaya, dan cahaya hanya dapat dipantulkan oleh cermin yang bersih. Pepatah Jawa merangkumnya dengan indah: “ngelmu iku kalakone kanthi laku” (Serat Wedatama), ilmu baru menjadi nyata ketika dijalani. Inilah barangkali kekhasan literasi santri: ia bergerak dari memahami teks menuju kejernihan batin dan kebermanfaatan.

Dari Pengetahuan Menjadi Karya

Kebermanfaatan itu tidak berhenti pada diri orang yang berilmu. Pengetahuan baru benar-benar hidup ketika diolah dan dibagikan: santri dapat menuliskannya menjadi esai, terjemahan, penelitian, atau media pembelajaran. Catatan pengajian yang disusun baik menolong orang lain mengingat pelajaran, dan dokumentasi sejarah pesantren menjaga ingatan kolektif agar tidak terputus oleh pergantian generasi.

Tidak semua ilmu harus menjadi buku besar; kebiasaan mencatat dan berbagi sudah merupakan awalnya. Tetapi ada kalanya pengalaman sebuah lembaga layak dibukukan, supaya dapat dipelajari lebih banyak orang.

Contohnya adalah The Gontor Model: Satu Abad Sistem Pendidikan Islam, Kaderisasi, dan Pembangunan Peradaban 1926–2026, karya Dr. Nuphanudin, S.IP., M.Pd., PBN., terbitan As-Shafa Publisher.

Buku setebal 456 halaman ini mengajak pembaca memandang Gontor bukan sekadar sebagai lokasi, tetapi sebagai model pendidikan yang hidup. Ia menelusuri satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor: semangat para pendiri, sistem pendidikan yang khas, kaderisasi yang berkelanjutan, hingga peran alumninya di berbagai bidang kehidupan.

Di antara banyak pembahasannya, ada satu bagian yang terasa menjawab pertanyaan kita tentang literasi. Dalam Bab 5, “Motto Gontor dan Cita-Cita Manusia Ideal”, pada bagian “Jiwa dan Filsafat Pendidikan Gontor”, buku ini membahas gagasan pembelajar sepanjang hayat. Dari keluasan ilmu yang ditanamkan, naskah menarik satu konsekuensi penting: kelulusan tidak berarti seseorang selesai belajar. Santri idealnya tidak hanya menerima isi pelajaran, tetapi dilatih untuk mencari dan mempelajari hal-hal baru setelah meninggalkan pondok.

Lalu muncul satu kalimat yang layak berhenti sejenak untuk direnungkan:

“Guru terbaik dengan demikian bukan orang yang membuat murid selalu bergantung kepadanya, tetapi orang yang perlahan membuat murid mampu belajar tanpa terus menunggu dirinya.”

— The Gontor Model, Bab 5, “Pembelajar Sepanjang Hayat”

Kalimat ini menawarkan ukuran keberhasilan pendidikan: apakah seseorang telah memiliki kemampuan untuk melanjutkan proses belajarnya secara mandiri? Dengan ukuran itu, literasi tidak lagi berhenti pada membaca dan menulis. Ia menjadi daya untuk terus belajar, bahkan ketika bangku sekolah, ijazah, dan guru tidak lagi berada di samping kita.

Gagasan ini terasa akrab dalam khazanah kita. Ki Hajar Dewantara merumuskannya sebagai tut wuri handayani: guru berjalan di belakang, memberi dorongan, sementara murid melangkah di depan. Ketika pendidikan berhasil, murid tidak berhenti pada gurunya, tetapi terus berjalan menuju ilmu yang lebih luas.

Buku ini sendiri memberi pelajaran lain. Seratus tahun pengalaman tidak dibiarkan menjadi kenangan lisan yang perlahan memudar, tetapi dicatat, ditata, dan disajikan agar bisa dipelajari generasi berikutnya. Itulah makna “dari pengetahuan menjadi karya” dalam skala sebuah lembaga.

Santri di Tengah Perubahan Zaman

Gagasan bahwa murid perlu mampu belajar tanpa menunggu gurunya menemukan ujian barunya hari ini. Teknologi digital dan kecerdasan buatan menghadirkan “guru” yang selalu siap menjawab, kapan pun dan tentang apa pun. Tantangannya bergeser: bukan lagi menunggu jawaban, melainkan menilai jawaban. Informasi yang dihasilkan sebuah sistem tidak otomatis menjadi pengetahuan yang benar, sebagaimana kemudahan memperoleh jawaban tidak selalu berarti kita memahami persoalannya.

Karena itu, literasi digital perlu berjalan bersama berpikir kritis dan etika. Santri dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses ilmu dan menjangkau lebih banyak orang, sementara tradisi pesantren menjaga agar kemajuan itu tetap diarahkan pada tujuan yang bermanfaat: menilai kapan teknologi perlu digunakan, bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab, dan untuk siapa manfaatnya dihadirkan.

Merawat Tradisi, Menguatkan Negeri

Menguatkan negeri tidak hanya berarti mempertahankan warisan perjuangan, tetapi juga melanjutkan ikhtiar membangun masyarakat lewat pendidikan, kemandirian, dan pengabdian. Ada santri yang kelak menjadi pendidik, peneliti, pengusaha, penulis, atau pemimpin masyarakat; bidangnya berbeda, bekalnya sama: pengetahuan dan karakter. Kekuatan sebuah lembaga pendidikan pun ditentukan oleh manusia seperti apa yang dibentuknya dan kontribusi apa yang mereka berikan setelah menjalani pendidikan.

Kontribusi tidak harus dimulai dari yang besar. Mengembangkan perpustakaan pesantren, membiasakan membaca, menulis pengalaman belajar, atau membantu masyarakat memahami informasi yang benar dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Dari kebiasaan kecil itulah budaya belajar tumbuh.

Satu abad Gontor mengingatkan kita bahwa pendidikan yang berhasil tidak diukur dari seberapa lama murid bergantung pada gurunya, melainkan dari seberapa jauh ia mampu belajar tanpa menunggu. Hari Santri adalah saat yang baik untuk bertanya: sudahkah ilmu yang kita pelajari menumbuhkan kemampuan untuk terus belajar?

Membaca membantu kita mengenali warisan. Berpikir memungkinkan kita memahami maknanya. Menulis dan berkarya membuka jalan bagi pengetahuan untuk diteruskan. Belajar tanpa henti menjaga agar cahaya ilmu tidak berhenti di tangan kita, dan pengabdian menghadirkan manfaatnya bagi sesama. Pada akhirnya, santri tidak hanya mewarisi ilmu dari masa lalu, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk menjadikannya jalan: bagi dirinya, bagi sesama, dan bagi negeri.

Kenali lebih jauh perjalanan satu abad Gontor dalam The Gontor Model di laman As-Shafa Publisher.

Selamat Hari Santri Nasional 2026.

Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.

A

Admin

publisher@as-shafa.com

📬 Newsletter

Dapatkan update artikel terbaru langsung di email Anda

Chat dengan Kami