81 Tahun Merdeka, Sudahkah Kita Benar-Benar Membaca?
Literasi & Pendidikan 06 Aug 2026 11 5 min

81 Tahun Merdeka, Sudahkah Kita Benar-Benar Membaca?

Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, artikel ini mengajak pembaca merenungkan hubungan antara kemerdekaan, literasi, dan ajaran Iqra'. Kemerdekaan sejati tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan, tetapi juga keberanian untuk terus belajar, membaca, dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa dan diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

A
Admin
Author
Share:

"Iqra' bukan sekadar ajakan membaca huruf, melainkan panggilan untuk membangun peradaban."

Bulan Agustus selalu menghadirkan semangat yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut negeri, lagu-lagu perjuangan kembali menggema, dan ingatan kita tertuju pada pengorbanan para pahlawan yang telah mengantarkan bangsa ini menuju gerbang kemerdekaan.

Tahun ini, bangsa Indonesia genap menginjak usia ke-81 sebagai negara yang merdeka. Delapan dekade lebih perjalanan sebuah bangsa yang terus bertumbuh, belajar, dan berbenah.

Namun, Agustus kali ini juga membawa makna yang lebih dalam. Pada bulan yang sama, umat Islam menyambut datangnya Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Dua peringatan yang tampak berbeda ini sesungguhnya memiliki satu benang merah yang kuat: sama-sama mengajak manusia menuju kemerdekaan.

Perjuangan kemerdekaan telah membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Sementara itu, risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ membebaskan manusia dari kebodohan, kezaliman, dan belenggu hawa nafsu. Keduanya mengajarkan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

 

Ketika Bangsa Berbicara tentang Kecerdasan

Para pendiri bangsa telah merumuskan arah Indonesia dengan sangat jelas dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Salah satu tujuan yang paling luhur adalah:

"...mencerdaskan kehidupan bangsa..."

Kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata indah dalam sebuah dokumen kenegaraan. Ia merupakan cita-cita besar yang menghendaki lahirnya masyarakat yang berpikir, gemar belajar, dan terus bertumbuh.

Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tentang membangun sekolah, perguruan tinggi, atau menyediakan fasilitas pendidikan. Lebih dari itu, ia merupakan upaya membangun budaya ilmu—budaya yang menjadikan membaca, berdiskusi, meneliti, dan berkarya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, perjalanan menuju cita-cita tersebut masih menghadapi banyak tantangan. Berbagai survei nasional maupun internasional menunjukkan bahwa kemampuan membaca, memahami bacaan, dan budaya literasi masyarakat Indonesia masih perlu terus diperkuat. Di era ketika informasi mengalir tanpa henti, tantangannya bukan lagi sekadar mampu membaca, melainkan mampu memahami, mengolah, serta menggunakan pengetahuan secara bijaksana.

Kemerdekaan yang tidak disertai kecerdasan akan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, bangsa yang mencintai ilmu akan memiliki daya tahan untuk menghadapi perubahan zaman.

Menariknya, cita-cita luhur para pendiri bangsa tersebut memiliki keselarasan yang mendalam dengan ajaran Islam. Jauh sebelum Indonesia merdeka, Islam telah lebih dahulu menempatkan ilmu sebagai fondasi lahirnya sebuah peradaban.

 

Wahyu Pertama Dimulai dengan Membaca

Lebih dari empat belas abad yang lalu, Allāh ﷻ menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah ﷺ dengan satu perintah yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang luar biasa:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."
(QS. Al-'Alaq [96]: 1)

Menariknya, wahyu pertama bukanlah perintah untuk menguasai dunia, bukan pula ajakan mengumpulkan kekayaan atau membangun kekuatan militer. Perintah pertama yang turun justru adalah membaca.

"Iqra'" bukan sekadar membaca teks. Ia merupakan ajakan untuk membaca alam semesta, membaca sejarah, membaca diri sendiri, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allāh ﷻ. Dari sanalah lahir ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan peradaban yang membawa cahaya bagi umat manusia.

Tidak mengherankan jika sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia. Perpustakaan, observatorium, rumah sakit, dan lembaga pendidikan berkembang karena masyarakat menjadikan ilmu sebagai bagian dari ibadah.

 

Kemerdekaan Membutuhkan Literasi

Sering kali kita memaknai kemerdekaan sebatas kebebasan untuk berbicara, memilih, atau menentukan masa depan. Padahal, ada satu bentuk kemerdekaan yang tidak kalah penting, yaitu kemerdekaan berpikir.

Orang yang tidak memiliki kebiasaan membaca akan lebih mudah dipengaruhi oleh informasi yang keliru. Ia rentan terjebak dalam prasangka, provokasi, atau sekadar mengikuti arus tanpa melakukan tabayun dan perenungan.

Sebaliknya, masyarakat yang gemar membaca akan lebih siap berdialog, menghargai perbedaan, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar emosi.

Karena itu, literasi bukan hanya urusan sekolah atau perpustakaan. Literasi merupakan fondasi kehidupan berbangsa. Melalui literasi, kita belajar menjadi warga negara yang bertanggung jawab sekaligus pribadi yang terus bertumbuh.

 

Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Membangun Peradaban Ilmu

Maulid Nabi bukan hanya momentum mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ. Ia juga menjadi kesempatan untuk meneladani cara beliau membangun manusia.

Rasulullah ﷺ mengubah masyarakat bukan semata melalui pidato yang menggugah, melainkan melalui pendidikan yang berkesinambungan. Beliau menanamkan kecintaan terhadap ilmu, membimbing para sahabat untuk memahami, menghafal, mengajarkan, dan mengamalkan apa yang mereka pelajari.

Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara berpikir. Dan perubahan cara berpikir selalu berawal dari kesediaan untuk belajar.

Karena itu, semangat "Iqra'" tetap relevan hingga hari ini. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan membaca dengan hati yang jernih dan pikiran yang terbuka menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

 

Indonesia Membaca

Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Indonesia juga tidak kekurangan sekolah dan perguruan tinggi. Yang masih perlu terus kita tumbuhkan adalah budaya membaca sebagai bagian dari budaya belajar sepanjang hayat.

Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad ﷺ tahun ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan dan ilmu tidak dapat dipisahkan.

Bangsa yang merdeka memerlukan warga negara yang cerdas. Sementara itu, kecerdasan hanya akan tumbuh jika budaya membaca, belajar, dan berbagi ilmu terus dirawat.

Setiap buku yang dibaca, setiap anak yang dibiasakan mencintai ilmu, setiap guru yang mengajar dengan sepenuh hati, setiap penulis yang menghadirkan gagasan, dan setiap penerbit yang menyebarkan pengetahuan merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Di usia Indonesia yang ke-81, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi, "Sudah berapa lama kita merdeka?" Melainkan:

"Sudahkah kita memanfaatkan kemerdekaan ini untuk terus belajar dan mencerdaskan kehidupan bangsa?"

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang berhasil merebut kemerdekaan, melainkan bangsa yang mampu mengisi kemerdekaan itu dengan ilmu, akhlak, dan peradaban.

Semoga semangat kemerdekaan menguatkan langkah kita membangun negeri, dan semoga cahaya keteladanan Rasulullah senantiasa membimbing setiap ikhtiar kita dalam merawat ilmu, menyemai makna, serta menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Wallāhu a'lam bis-shawāb

A

Admin

publisher@as-shafa.com

📬 Newsletter

Dapatkan update artikel terbaru langsung di email Anda

Chat dengan Kami